Skip to main content

Posts

TULANG RUSUK :

Untukmu tulang rusukku kita adalah pengembara di tanah yang resah kita adalah tanya dari sebuah soal yang berisi rasa Untukmu tulang rusukku teruslah mengembara sebab aku takkan diam dan memilih  teruslah berdoa sebab aku takan pindah ke lain rumah  Untukmu tulang rusukku jika kita tak bertemu di persimpangan jalan atau disebuah pertokoan  akan ku pastikan kita bertemu di tanah pemakaman Wates 04/03/2017

MALAM ITU DI SURABAYA

Semua tak jauh berbeda dari apa yang ada Hanya sapa dipagi buta yang tak biasa Dinginnya membuka mataku tentang semua persamaan Pada Tuan yang menata mimpi Pada Puan yang berambut wangi Pada Supir tua yang menjemput Rizki  Pada Satpam yang tenggelam di gelas kopi Pada Kakek tua yang mendikte langkah Aku yang mencari perbedaan tak pernah benar-benar menemukannya Saat ini aku, kamu, dan kita sama-sama tenggelam digelap malam Surabaya Surabaya 13-09-2016

MERPATI

Kutulis larik-larik dari ratusan kata yang kupilih,  Kupetik satu demi satu,  Kuraba setiap lekuknya, Kubayangkan hidup-hidup,  Kemudian kususun menjadi sebuah kalimat Kubungkus dengan pita paragraf  Ku amati ulang setiap sudut kata-katanya Sehingga dapat kupastikan tak ada satupun kata yang tertinggal  dari keutuhannya  Dan aku berharap nanti kata-katanya terbaca dengan jelas oleh kedua bibirmu  Lalu kini kukirim simpulan ini lewat merpati pos Supaya sampai maksud dan kemauanku akan engkau Wates 10 Februari 2018

TEMAN

Bukan kah kita pernah sama-sama bangkit dari kegagalan? Kita juga pernah menari-nari diatas permadani kesengsaraan Berenang digenangan peluh yang mengalir dari mata air pori-pori bapak Membalut hati yang koreng dari luka yang mulai mengering Bukankah kita sering bercerita tentang harapan-harapan yang panjang bahkan lebih panjang dari rokok yang sama-sama kita hisap? Hari, bulan, tahun,  yang telah kita tandai dengan kecemasan serta kegelisahan Ingat kita bukan para pemenang yang memilih tidur karena merasa semuanya telah berakhir Kita adalah para petarung dimana perang adalah satu-satunya pilihan agar kita tetap hidup. Sedikit aku ambil kutipan dari narasi Irvan Aulia Untuk mengingatkan kita bahwa kita memang ditakdirkan untuk menjadi petarung yang tangguh. Meski sedikit naif atau mungkin kata-kataku lebih melankolis. Tapi itulah kita yang sebenarnya. 7 Januari 2018

PERTANYAAN

Aku bertanya tentang semua hal yang terjadi. Tentang ketulusan ilalang Tentang ketulusan angin Tentang ketulusan anjing Lalu aku bertanya pada semua sosok yang kutemui, Pada Penyair yang memadukan kata menjadi kaya akan makna Pada Ibu yang merawat impian anaknya Pada segenap pejuang hari yang menutup senja dengan cerita, demi menjemput fajar bahagia Lalu aku bertanya Mengapa aku bertanya. pada malam aku bertanya?. 8 Desember 2017

SEIMBANG

 Assalamualaikum WR. WB. Semoga Masi ada kesempatan untuk kita membersihkan halaman, menyapu daun" yang jatuh memilah sampah mana yang harus dibakar, dan memupuk bibit-bibit tanaman. Karna keseimbangan memang harus dijaga, Aku jadi teringat pesan singkat dari salah seorang  teman dipagi buta yang seolah memberi isyarat begini isinya : "Mam" "Bagaimana jika... Para developer pembangunan beton apartemen, mal, hotel, jalan dan perumahan kehabisan lahan untuk dibangun dan mulai berpikir untuk masa depan nanti. Mungkin sekitar 50 sampai 100 tahun Lagi mereka mulai berbisnis menujual bibit pepohonan dan tumbuhan-tumbuhan lainnya. Bukan lagi fasilitas berteduh super mewah dan fasilitas modern lainnya, melainkan pepohonan untuk tetap bernapas, untuk tetap mendapatkan bahan pangan, dan juga memakai *eco* untuk tempat bertahan hidup." Pesan itu aku dapatkan sekitar pukul 06:29. Hampir pertanyaan itu menunda waktuku untuk tidur, dengan respon cepat aku membalas...

CATATAN SEORANG PEJALAN (PULAU LOMBOK)

Assalamualaikum WR. WB. Aku mungkin bukan seorang pejalan sejati sebab langkahku belum sepanjang Jejak SI Gundul, atau Ramon Seratus Hari Keliling Indonesia, bahkan tidak sefamiliyar Artis MTMA (My Trip My Adventure), keberanianku juga belum menandingi Medina Kamil presenter manis Jejak Petualang yang pernah menginjakan kaki di puncak Gunung Jaya Wijaya (Papua). Perjalananku hanya perjalanan kecil, disudut-sudut pasar, stasiun, dan terminal. Tujuanku tak lebih belajar bagai mana beradaptasi dengan orang-orang baru yang kutemui, pembahasanku juga buka soal untung-rugi atau menyoal penghasilan yang jauh dari Matematika Manusia. Hanya sekedar obrolan ringan tentang bagaimana menjaga rasa syukur. 12 September 2016 awal perjalanan panjang menuju pulau impian sebagian anak muda pada umumnya, terlebih dipulau tersebut berdiri kokoh Gunung Rinjani yang menjadi Objek bagi pendaki yang bermimpi menaklukan Gunung-gunung yang ada di Indonesia. tapi bukan itu yang menjadi pokok pe...