Skip to main content

PASAR MALAM

Apa yang lebih gembira dari bianglala? Tangis anak kecilpun membuat sang ibu tertawa, seraya berkata dalam benaknya, "nak kelak beginilah roda hidup, yang sengaja di simulasikan olah para mas-mas berkulit legam, untuk mengingatkan kita bahwa hidup harus tetap bergerak!, Meskipun naik dan turun." Sedang ayah terus berteriak dari bawah. "Tambah lagi kecepatannya!," Itu pun sambil tertawa, melihat anak lelakinya menangis. Apa yang lebih gembira dari korak-korak pasar malam pinggir jalan? Orang berbondong-bondong mengantri giliran guna menjemput ketegangan, lantas setelah permainan mereka merubahnya menjadi gelak tawa, Apa yang lebih gembira dari roda-roda gila? Menyaksikan Laki-laki berbadan kekar, yang mempertaruhkan nyawa demi menjemput rupiah, sedang kita bertepuk tangan sambil tertawa ria. Jika tangis, tegang, serta nyawa adalah fitrah, maka bahagia adalah bagian dari kehidupan.

Comments

Popular posts from this blog

APA YANG BERUBAH?

Di bakar api yang disebut rindu, Di lempar batu yang disebut cemburu, Di nyanyikan lagu yang lengkingnya tak begitu merdu, Telah ku pandang dari mata ke tiga, bunga-bunga harapan berhamburan di udara, ada yang melihatnya sebagai doa, ada pula yang melihatnya sebagia awal dari malapetaka. untuk meyakinkannya aku bertanya kepada ibu dengan nada berbisik "Bu... apa ini yang disebut cinta dengan berbagai macam bahasa?." tak lagi ku lihat taman yang indah, dengan bunga-bunga yang merekah, atau jalan setapak dimana para pejalan kaki dapat berpapasan tanpa jarak, lantas mereka bisa saling sapa.

pulang?

Jika langkah kaki ini sudah terlalu jauh melangkah dari arah jalan pulang, maka kemana saya akan pulang? Jika yang disebut kebanyakan orang arah jalan pulang adalah rumah tempat tinggal yang beratapkan genting yang hakikatnya menutupi sang pemilik dari teriknya panas matahari dan basahnya air hujan, maka bukan itu yang saya sebut sebagai arah tempat kemana saya akan pulang. Lalu jika ada seseorang yang mengatakan bahwa arah jalan pulang adalah tempat dimana saya dilahirkan dan di besarkan oleh ibu dan bapak saya yang mengasuh dengan kasih sayang dan mendidik dengan ketulusan, itu juga bukan arah jalan pulang yang cukup meyakinkan untuk saya tuju. Lalu kemana kelak saya akan pulang? 21 satu tahun adalah kurun waktu yang saya jalani, apakah sudah cukup untuk menentukan kemana arah jalan pulang, lalu kapan saya akan pulang dan kemana saya akan pulang? apakah selama ini adalah salah satu perjalanan saya menuju arah jalan pulang?   Namun kapan saya akan pulang?  ...

AIR

Se Suci apakah diri yang hina ini ? Tidak bercerminkah kita ? Tidak kah sadar akan kekotoran diri ini ? Apa air yang setiap hari kita kotor untuk membersihkan tubuh ini tak kunjung membuat kita sadar akan kekotoran diri ini ? Masih pantaskah kita anggap diri ini bersih, suci. Lalu ia mengeluarkan kejernihannya, tunduk atas perintah Mu untuk kembali ketempat kotor karna membersihkan badan-badan, bau dan kotor manusia. Mungkin itulah cara kembali air menjadi mulia, membersihkan segala yang kotor merelakan kejernihannya ternodai. Lantas masih terasa sucikah diri ini ? #SuratSobek