Di bakar api yang disebut rindu,
Di lempar batu yang disebut cemburu,
Di nyanyikan lagu yang lengkingnya tak begitu merdu,
Telah ku pandang dari mata ke tiga, bunga-bunga harapan berhamburan di udara, ada yang melihatnya sebagai doa, ada pula yang melihatnya sebagia awal dari malapetaka.
untuk meyakinkannya aku bertanya kepada ibu dengan nada berbisik
"Bu... apa ini yang disebut cinta dengan berbagai macam bahasa?."
tak lagi ku lihat taman yang indah, dengan bunga-bunga yang merekah, atau jalan setapak dimana para pejalan kaki dapat berpapasan tanpa jarak, lantas mereka bisa saling sapa.
Jika langkah kaki ini sudah terlalu jauh melangkah dari arah jalan pulang, maka kemana saya akan pulang? Jika yang disebut kebanyakan orang arah jalan pulang adalah rumah tempat tinggal yang beratapkan genting yang hakikatnya menutupi sang pemilik dari teriknya panas matahari dan basahnya air hujan, maka bukan itu yang saya sebut sebagai arah tempat kemana saya akan pulang. Lalu jika ada seseorang yang mengatakan bahwa arah jalan pulang adalah tempat dimana saya dilahirkan dan di besarkan oleh ibu dan bapak saya yang mengasuh dengan kasih sayang dan mendidik dengan ketulusan, itu juga bukan arah jalan pulang yang cukup meyakinkan untuk saya tuju. Lalu kemana kelak saya akan pulang? 21 satu tahun adalah kurun waktu yang saya jalani, apakah sudah cukup untuk menentukan kemana arah jalan pulang, lalu kapan saya akan pulang dan kemana saya akan pulang? apakah selama ini adalah salah satu perjalanan saya menuju arah jalan pulang? Namun kapan saya akan pulang? ...
keren,
ReplyDeleteTerimakasi mas Romi 🙏
Delete