Skip to main content

Posts

Malamnya masih di selimuti hujan

Malamnya masi di selimuti hujan Gk terlalu jauh dari tempat saya tidur, sekitar beberapa ratus meter dan kaki ini hendak menuntun saya ke sebuah warung internet sekitar. apa yang saya lakukan sebenarnya standar dan gk ada yang spesial atau pun aktifitas yang baru. pergi ke kampus, ngopi, dan ngobrol sama beberapa temen kampus tiba-tiba teringat tugas kampus yang lumayan numpuk dan harus di kumpulin besok, agak lumayan panik sedikit bingung langsung saya ke warung internet mulai garap satu persatu tugas tapi yang terjadi di petakan warung internet ini gk ada bayangan sama sekali saya dapet beberapa inspirasi baru ya mungkin ini lah sekenario baru yang di kirim Allah SWT.  dari mulai tawaran menggarap Film dokumenter, menulis puisi, nulis bareng, dan gambar. Awalnya agak ragu karna banyak kegiatan dan ada tanggung jawab juga untuk mencari nafkah tapi saya mulai berani buat ngambil keputusan, kenapa? karna saya teringat akan nasihat guru saya "bahwa sebaik-baiknya manusia i...

AIR

Se Suci apakah diri yang hina ini ? Tidak bercerminkah kita ? Tidak kah sadar akan kekotoran diri ini ? Apa air yang setiap hari kita kotor untuk membersihkan tubuh ini tak kunjung membuat kita sadar akan kekotoran diri ini ? Masih pantaskah kita anggap diri ini bersih, suci. Lalu ia mengeluarkan kejernihannya, tunduk atas perintah Mu untuk kembali ketempat kotor karna membersihkan badan-badan, bau dan kotor manusia. Mungkin itulah cara kembali air menjadi mulia, membersihkan segala yang kotor merelakan kejernihannya ternodai. Lantas masih terasa sucikah diri ini ? #SuratSobek

pulang?

Jika langkah kaki ini sudah terlalu jauh melangkah dari arah jalan pulang, maka kemana saya akan pulang? Jika yang disebut kebanyakan orang arah jalan pulang adalah rumah tempat tinggal yang beratapkan genting yang hakikatnya menutupi sang pemilik dari teriknya panas matahari dan basahnya air hujan, maka bukan itu yang saya sebut sebagai arah tempat kemana saya akan pulang. Lalu jika ada seseorang yang mengatakan bahwa arah jalan pulang adalah tempat dimana saya dilahirkan dan di besarkan oleh ibu dan bapak saya yang mengasuh dengan kasih sayang dan mendidik dengan ketulusan, itu juga bukan arah jalan pulang yang cukup meyakinkan untuk saya tuju. Lalu kemana kelak saya akan pulang? 21 satu tahun adalah kurun waktu yang saya jalani, apakah sudah cukup untuk menentukan kemana arah jalan pulang, lalu kapan saya akan pulang dan kemana saya akan pulang? apakah selama ini adalah salah satu perjalanan saya menuju arah jalan pulang?   Namun kapan saya akan pulang?  ...

MONYET

Teriakan klakson motor mu menampar tenang ku, 18:15 situasi dimana senja tak lagi di hantarkan kehangatan, namun amarah yang membabi buta. Oksigen ku di gantikan oleh asap-asap sisah bahan bakar mu! yang menutupi akal sehat pikiran ku, "Aku kau panggil, 'hy BANGSAT!" "Ku panggil kau 'KEPARAT!" Asap kuda besi mu menampar muka ku yang pucat, sore itu terasa panas padahal hijan sedang lebat-lebatnya. Mungkin air hujannya panas karna bercumbu dengan BANGSAT dan KEPARAT, Anehnya di sudut jalan ada monyet tersenyum mengamati situasi sore itu yang air hujannya panas. Entah lah mungkin monyet itu sedang berfikir bahwa yang dia lihatnya adalah mimpi di dalam hutan. #SuratSobek

GUNDAH

Gelisah bersemayam Aku seakan di permainkan oleh alam Fatamorgana, Dimana alam ini seakan tak luput dari mempermainkan, Seakan gunda ini tak terlepas dari jiwa yang teramat rapuh, Menggerogoti sel-sel akal sehat, Melumpuhkan kemurnian niat, Dimana ketenangan yang menjanjikan kesejukan? Dimana kedamaian yang menjanjikan ketulusan? Dan dimana keikhlasan yang menjanjikan kemurnian? Sedangkan detik ini aku masih gelisah, gundah gulana. Aku ingin menjemput Firman Maha pengasih dan Maha penyayang untuk "kembalilah wahai jiwa-jiwa yang tenang" #SuratSobek

KEABADIAN

Menjalani hari. Menghidupkan sendi-sendi history. Dalam sunyi semua menutup diri. Aku dan Kau menjadi alunan melodi. Biarkan aku mabuk tanpa adanya waktu dan hari. Karna kedalaman merindukan keabadian sebab segala kedalaman mencintai dan merindukan keabadian.

CERMIN

Setiap ruang yang tertutup akan retak, Karna mengandung waktu, Dan akhirnya akan meledak, Bila tenaga waktu terus menghadang, Kau bentangkan sajadah mahal mu, Membanggakan diri dan sudah merasa mencintai mu, Apakah kau ingin seperti iblis? Yang berlaku congkak di hadapanNya, Bukankah tanah tempat untuk di injak, Membuang ludah dan dahak, Tempat kencing dan berak, Atau paling jauh hanya tempat pelampiasan serakah dan tamak, Bukankah tanah adalah ibu mu, Yang setia menemani mu dalam suka dan duka, Bukankah tanah adalah ayah mu, Yang membimbing untuk tumbuh dan berkembang menjadi insan, Bercerminlah pada sawah dan ladang!, Yang bersyukur dan bergembira dengan menundukan diri seperti padi, Lahir dari tanah, menguning di sawah Menjadi beras di tapah kemudian menjadi nasi memasuki tenggorokan hamba Mu yang gerah, Adalah cara paling mulia bagi padi itu kembali ke pangkuan Mu, Buanglah sajadah mahal mu! Tundukan hati dan kepala mu! Tanahkan wajah mu! Agar rahmat ...